Dentuman musik dangdut menghampiri kedua pasang telinga gadis amoy yang berperangai layaknya duo dewi Iustisia yang adil nan beradab.
Seharusnya ada pepatah bijak yang berbunyi: "Walau berbeda pola namun motifnya sama." Kira-kira inilah yang mungkin dialami oleh Vera dan Devana. Duo gadis penegak keadilan ini baru lulus dari sebuah SMA yang terpojokan.
Beberapa bulan berlalu, Vera menjadi mahasiswa hukum Universitas Yale di inggris dan Devana menjadi mahasiswa hukum Universitas Amsterdam di belanda. Mereka berdua mempelajari hukum bersama di universitas yang berbeda bagaikan berlari diatas papan yang bertolak belakang.
Vera dan Devana mengadu ilmu dalam kampus dimana tertanam jiwa sang dewi Iustisia yang suka menimbang dan bermain pedang.
Empat Tahun masehi berlalu, mereka berdua lulus dengan hukumnya masing-masing. Mereka berencana untuk menjalankan ritual sakral yaitu reunian. Mereka pun bertemu di terminal Kalideres dengan suasana yang benar.
"Hey Devana, how are you? Udeh lama enggak ketemu nih, makin geboy aja."
"Hey Vera, I'm fine, sok inggris lau, lau sendiri bagaimana kabarny? makin semok aja lau nih"
"Baik kok Dev, kangen nih sama suasana kayak gini. Nongkrong di terminal, debat sama germo, main ke pasar Ipli, sharing cerita dan cinta, pokoknya kangen bingits."
"Iya kangen banget Ver, By the way, lau disana belajar apa?"
"Aku disana belajar hukum lah, tapi aku belajar sistem hukum lebih keren dari hukum yang ada di negeri ini Dev."
"Hukum apa itu Ver, Lau mah ngaco aja, mana ada yang lebih keren dari sistem hukum kita."
"Ada lah Dev, kamu kudet amat sih. Sistem hukum yang paling keren itu sistem hukum Anglo-Saxon yang kepake di Amerika, Inggris, Singapura dan negara persekutuan Inggris lainnya."
"Kerennya apa sih Ver, mereka itu hukumnya enggak dibukuin. Labil kayak bocah. Apa keren nya coba?"
"Lah bagus lah Dev, dengan kayak gitu hukumnya gampang berubah sesuai kebutuhan, emangnya Eropa kontinental hukumnya harus dibukuin, kaku kayak batu ginjal."
"Justru yang kaku lebih enak lah daripada yang lemas Ver. Yang kaku itu tegak setegak-tegak nya, Hukum itu harus tegak dan pasti. emang lau yang suka sama yang lemas haha..."
"Kalo negeri ini memakai sistem hukum Anglo-Saxon, Aku yakin bisa lebih tertib lagi ini negeri Dev."
"Haha... hukum labil bisa bikin tertib Ver? Imposible keles. Lagian ini negeri dulu diperkosa oleh negeri Eropa yang pake asas Konkordasi. Lau masih inget ini asas?"
"Inget Dev, tapi sekarang negeri ini sudah tidak diperkosa lagi sama negeri Eropa dan udah melahirkan kemerdekaan. Harusnya ada yang diubah dong?"
"Emang ngerubah hukum itu gampang Ver? Lau mah ngaco aja udah tau negeri kita bekas diperkosa sama negeri Eropa, yang namanya bekas diperkosa itu ada bekasnya Ver. Lau masih inget waktu lau diperkosa abis dari lulus SMA? Masih ada bekasnya kan?"
"Iya sih emang masih ada bekasnya Dev, ngerasa ada yang beda dari yang dulu. Tapi negeri ini bukan orang, yang abis diperkosa ada bekasnya dan enggak bisa hilang. dengan pake sistem hukum Anglo-Saxon yang kayak negara Amerika itu bikin hukumnya cepat dan lebih berguna sesuai kebutuhan."
"Enggak bisa Ver, Enggak akan mungkin Negeri ini pake Anglo-Saxon, yang ada pake Eropa kontinental."
Mereka pun akhirnya ribut ditempat yang sampai membuat Vera menyiram kopinya ke Devana dan tempat itu seketika menjadi kacau dengan suasana mencekam. Beruntung kopinya sudah dibayar sebelum diskusi.
Esok harinya, Handphone mereka seketika hening dari meriahnya komunikasi antara mereka berdua. Mereka berdua saling membuat Propaganda hitam selama lebih dari dua tahun lamanya.
Dua tahun berlalu, angin topan berhembus perlahan. Mereka pun dipertemukan di tempat yang sama dengan membawa massa. Di kubu Vera berkumpul ahli hukum Anglo-Saxon dan di kubu Devana berkumpul ahli hukum dan para pengacara yang mendukung Eropa kontinental. Mereka saling berdebat alot bagaikan sate kambing disana.
Sedangkan mereka berdebat, tiba-tiba datanglah seorang Ustad insyaf yang menengahi dua kubu tersebut.
"Bapak dan ibu-ibu sekalian, kalian boleh mempelajari ilmu dari luar tetapi kalian jangan menjadi fanatik, fanatik itu simbol kebodohan. Sesungguhnya ilmu yang lebih baik adalah ilmu yang berasal dari bangsanya sendiri dan dari yang maha kuasa. Ingat sila kesatu dari pancasila."
Seketika perdebatan itu sirna, Vera dan Devana pun bersatu kembali dan mempelajari hukum yang berasal dari Tuhan yang maha esa, Madilog karya Tan Malaka dan Dibawah Bendera Revolusi karya Soekarno. Mereka memulai hidup baru dengan ilmu.
Dibuat oleh: Tan Aland